Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, June 10, 2014

Cinta Itu..

Cinta itu pencarian
Mencari hati yang nyaman
Mencari pasangan hidup yang akan setia bersamamu hingga masa tua
Meski ia tau kamu sosok yang menyebalkan

Cinta itu keikhlasan
Menerima dia yang penuh kekurangan
Karena kamu tahu, kamu ga membutuhkan kesempurnaan
Namun seseorang yang mampu menutupi celah kekuranganmu, dengan kelebihannya

Cinta itu tahu kapan harus berhenti
Ketika kamu bisa menjadi dirimu sendiri
Ketika kamu bisa lepas tertawa bahkan disaat tersulit bersamanya

Cinta itu kamu..

Tuesday, October 1, 2013

Kamu dan Hari Lahir

Kamu.
Sosok yang lama tak tersentuh mataku.
Mungkin sedang bersembunyi.
dibalik senyum yang kau susun rapi di kotaku.

Di usiamu yang kian terbang tinggi.
Semoga diiringi sejuta mimpi.
Dan harapan.
Yang terjadwal untuk dinyatakan.

Semoga.
Kuselip berbagai doa baik di dalamnya.
Lekaslah menjadi seorang pharmacist.
Atau sesorang yang kau inginkan.

Selamat ulang tahun, kawan!


Ragil Puputan

Tuesday, September 24, 2013

Menyapa Rasa


Hai cinta!
Kemana saja?
Aku hampir lupa bahwa kau pernah ada.
Kenalkan lagi aku pada bahagia.
Aku tak lagi bisa mengingat wajahnya.

Hai, rindu!
Kemana kamu?
Akhir-akhir ini suka menghilang dari pikiranku.
Lekas kembali. Aku ingin merasakanmu lagi.

Takut, mengapa kau bergelayut?
Terdiam di sudut?
Ayolah, aku sedang tak ingin bertemu dirimu.
Kau hanya membuat hatiku kian kusut.

Ada apa dengan kalian?
Hati ini tak lagi nyaman?
Mengapa kalian berseliweran?
Minta di selamatkan?
Yah, begitupun aku.

Ilusi


Terdiam di seluk malam.
Wajah menekuk, hati gemeretuk.
Sepi menepi, simpuh berpeluh.

Hilang ingatan menjadi keinginan.
Harapan bimbang, rasa itu tak pernah datang.
Yang membawa cahaya sempurna kedalam relung hati hampa.
Yang mencoret segala sisi dengan pelangi, hingga aku tersenyum-senyum sendiri. Geli.

Untuk satu nama, dua huruf, berjuta makna.
Katakan padaku, kalau kita tak pernah ada.
Katakan padaku, ini hanya ilusi.
Katakan padaku, bahwa aku juga benar-benar mencintaimu.

Berikan nama pada rasa aneh ini.
Yang beringas menggerogoti perasaanku.

Yakinkan aku..
Bahwa kau akan membebaskanku dari rasa tak percaya yang selama ini kubawa.
Rasa ragu yang kupangku dibalik sembilu.
Rasa kalut dan takut.
Yang entah sejak kapan menggantikan gerlap cinta di nadiku.

Pelangi yang dulu sangat berwarna, entah mengapa kini mulai pudar.
Mungkin tertutup awan.
Mungkin menunggu hujan.
Mungkin pula akan hilang.

Aku terjerembap. Kembali memeluk bumi.
Mungkin aku terbang terlalu tinggi.
Pijakanku tak pasti.
Aku melayang di sebuah ilusi.
Tertampar waktu.
Tertegun dan kehilangan bayangmu.
Sosok yang dulu suka menyanyikan lagu.
Kamu. Bayang tak pasti. Ilusi.

Wednesday, August 21, 2013

Dendang Sore Hari


Sore tadi sunyi menghampiriku, memintaku menemaninya berbincang, menunggu senja datang. Ia bercerita, tentang sebuah sosok yang kini hilang. Sebuah sosok yang sering mencuat dari lamunannya, menguasai alam bawah sadarnya, dan menciptakan buih-buih rasa di hatinya.

Sosok itu, yang menciptakan satu kata bernama rindu dengan lantang menusuk rongga-rongga hati kecilnya. Merobek kenangan yang ia susun rapi dalam kotak kayu yang ia namakan "kamu". Kenangan, yang mungkin berjuta jumlahnya, berlabelkan kata yang sama, kamu. Sang sunyi begitu menggilai sosok itu, dan merindukannya dengan sangat. Entahlah, aku tak mengerti mengapa sebuah rasa bisa menimbulkan ekspresi yang begitu menggebu.

Aku mendengarkan. Aku paham. Ia hanya sedang mencoba mencicipi rasa yang tak bisa kau wakilkan hanya dengan satu kata. Rasa yang dulu, dulu sekali pernah ada dan bermain-main di taman hatinya. Rasa yang kemudian memudar, dan hambar. Rasa yang mengejang diterpa langkah waktu yang merentang panjang. Rasa yang dulu hingar terikat ikrar, kini terkulai bagai semai dihempas badai.

Senja datang, menjemput sang sunyi. Dengan mega merah yang selalu menemaninya melintasi sore, yang dengan diam-diam memilih malam dan temaram untuk menghapus siang.

hening.

Sunyi pergi, aku sendiri.

Brak! Sunyi melemparkan kotak kayunya. Kudapati sebuah sosok; kamu.

Wednesday, June 19, 2013

Disana



Ku gulung lagi selembar rindu yang berserak di lantai kamarku.
Jumlahnya beribu.
Meski ku berusaha merapikan, tetap saja, denting waktu memunculkan lembaran baru.
Aku letih.
Kubiarkan lembaran itu berserakan.
Sebagian telah kusimpan di bilik kayu.
Takkan kubuka lagi.
Hingga berdebu.
Hingga rapuh.
Hingga ia hilang diambil waktu.


Tersudut di kamar.
Mencium isak tangisku yang luruh oleh senja.
Mendengar bayang-bayang yang melintas di lorong langit.
Berteman dengan kesendirian.
Menepuk bahu keheningan yang kian terasa mencekam.


Setangkup harapan kini terasa usang.
Mungkin ia lelah..
Mengharapkan tindakanku yang tak kunjung membuahkan arti.
Aku terus bermain dalam kesendirian.
Menunggu senja menghilang.
Menunggu pagi datang.
Meski kutahu, cahaya matahari kan menyilaukanku.
Guratan cahaya dan keramaian kan menyipitkan semangatku.
Namun langkah gontaiku kan tetap menciptakan jejak.


Diantara retakan harapan.
Bersama kesendirian.
Aku melangkah.
Meski kutak tahu kemana tujuan ini berakhir.
Meski kutak tahu apa yang kucari.
Meski sendiri.
Kutetap berjalan pasti.
Menghanyutkan sekotak gulungan rinduku.
Mengusir sepiku.
Aku tahu, ada rentangan bahagia yang menungguku disana.


Disana, entah dimana..

Monday, June 3, 2013

Segulung Rindu



Untuk seorang pria, ksatria hidupku
Yang bahunya selalu kuat menopang hidup
Yang senyumnya selalu tersungging manis
Yang tuturnya selalu menenangkan hatiku

Aku merindukanmu
Merindukan tatapan teduh yang kau sorotkan padaku
Dalam pertemuan kita di sebuah denting waktu

Aku merindukanmu
Kerja keras dan peluh keringat yang selalu menetes dari tubuh kurusmu
Demi aku, demi anakmu


Untuk seorang wanita tercantik di negriku
Yang tawanya selalu mencerahkan hariku
Yang peluknya selalu menguatkanku
Yang air matanya selalu luruh dalam sujud tengah malam
Yang namanya selalu kusebut dalam doa

Aku sangat merindukanmu
Belaian lembut yang kerap mendarat di rambutku
Cinta yang tulus hanya untukku
Binar mata yang lembut menyapaku
Aku sungguh merindukanmu


Untuk kalian para laskar kecilku
Hunus pedang kalian ke hadap matahari
Lawan pahitnya hidup
Dan tetap tersenyum


Aku tak pulang
Perahuku kandas
Ombak sedang garang, aku tak berani menyeberang
Dengarkan nada rindu yang kugantungkan pada hembusan angin
Jangat meringis
Aku tak apa
Hanya sedang terbalut sepi


Tunggu saja matahari bertengger di senja jingga
Kita akan menjadi lima
Berdiri di ranah yang sama
Segera..


Wednesday, May 22, 2013

Tentang Aku


Berpasang-pasang mata menatapku tajam
Sinis!
Aku tau, hanya berpura tak peduli
Tawa mereka dibelakangku
Cibiran pedas yang memekik di tiap pikirannya
Aku tau!
Namun tetap, aku tak ingin peduli

Langkahku goyah

Beban pundakku sudah terlalu berat
Tak sanggup kupikul sendirian
Aku luka
Hatiku luka
Batinku luka

Cemoohan itu tak lagi kupedulikan

Hardikan itu tak ingin kudengar
Kututup telinga dan tetap berjalan
Mataku panas, hatiku meradang
Aku meringis, mendesis marah

Busuk! Busuk! Busuk!

Aku tak mau mati dimakan kehidupan ini
Terikat bagai boneka yang siap dimainkan
Terombang ambing bagai perahu tanpa jangkar
Aku gila!
Aku tak ingin gila!

Air mataku berubah merah

Senyumku sayu, wajahku haru
Aku tertekan batin
Aku terjerembab
Dalam hidup yang terpaksa kujalani
Gelap!

Aku butuh cahaya

Aku ingin bebas
Aku ingin terbang
Aku ingin kedamaian
Aku ingin tenang

Melayang, terbang..




Wednesday, April 17, 2013

Bolehkah?



Bolehkah aku mengutuk takdir?
Yang dengan lancang mengaitkan benang merah
Sehingga aku dan kamu tak sengaja bertemu

Bolehkah aku mencaci takdir?
Yang membuat hatiku menggoreskan namamu di relungnya

Bolehkah aku menyalahi takdir?
Berharap kamu akan duduk di sampingku
Menatap senja di usia senja kita
Diantara hamparan dedaunan hijau di lereng pegunungan

Bolehkah aku meminta izin pada takdir?
Membaca halaman berikutnya dari kisah hidupku
Tentang aku, kamu, kita
Bolehkah?

Tuesday, April 16, 2013

Perspektif


Ada orang yang sibuk bersimpuh memperjuangkan cinta
Sedang di tempat lain ada orang yang tak kenal cinta
Karena sibuk memperjuangkan perut

Ada orang yang hanya menangisi masa lalu
Sedang di tempat lain ada orang yang bangkit
Dan memperjuangkan masa depannya

Ada seorang yang sempurna segala, mengutuk hidupnya sendiri
Namun di tempat lain, ada seorang cacat
Yang mensyukuri segala rintangan hidupnya

Ada yang suka mengeluh dengan gadget barunya
Sedang di tempat lain
Ada yang banting tulang demi menghidupi ketiga adiknya

Andai saja kita mau lebih bersyukur dan melihat sekeliling
Ada kebahagiaan yang bisa kita temukan
Ada senyum yang bisa kita dapatkan
Ada kemerdekaan hati
Ada kesederhanaan

Ubah sudut pandang
Ubah perspektif kita dalam menjalani hidup
Karena..
Hidup terlalu sia-sia
Bila kita hanya berdiri di satu sudutnya


Friday, April 12, 2013

Mandalawangi


Sendja ini, ketika matahari turun
ke dalam djurang - djurangmu
aku datang kembali
ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbitjara
tentang manfaat dan guna
aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan
seperti kau terima daku

aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi
sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan
menjelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
dan bitjara padaku tentang kehampaan semua

"hidup adalah soal keberanian,
menghadapi jang tanda tanja
tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah dan hadapilah"

dan antara ransel - ransel kosong
dan api unggun jang membara
aku terima itu semua
melampaui batas2 hutanmu,
melampaui batas2 djurangmu
aku tjinta padamu Pangrango
karena aku tjinta pada keberanian hidup



Puisi yang diciptakan oleh Soe Hoek Gie di lembah Mandalawangi

Thursday, April 4, 2013

Bintang


Bintang..
Aku mengagumimu dalam diam heningnya malam
Mengagumimu dengan bentangan jarak
Tak ingin mendekat
Tak ingin mencoba mengerti

Dibalik sekelebat kepulan gelap malam
Kamu selalu terang
Hatiku selalu girang
Mengagumimu dalam diam

Kemelut cahaya putih kecil
Berkelip ramah menyeka kegelapan
Terang, gemilang, indah

Aku menengadah
Mencarimu dibalik awan kelam
menemukanmu; harapanku tiap malam

Aku cuma pengagummu
Yang hanya bisa mencipta sajak sederhana

Aku cuma pengagummu
Yang hanya bisa memandangimu dari jauh

Aku hanya pengagummu
Yang mengagumimu dengan hati tulusku

Aku hanya pengagummu
Hanya pengagum setiamu
Aku tak berharap banyak; bisa lebih dekat denganmu

Bersinarlah di tiap malamku
Biarkanlah aku menulis sajak untukmu
Itu cukup
Bahkan sangat cukup buatku

Bintang..
Tetaplah disana
Bersinarlah seperti yang seharusnya
Akupun kan tetap disini
Menatapmu jauh dari balik bumiku






Waktu nulis ini, yang muncul di pikiran aku; kamu, inspirasiku.
Kamu, bintangku.
Maukah selamanya bersinar di hatiku?
Menemaniku dari gelap dan misteriusnya kehidupan?

Wednesday, February 27, 2013

Kesenian Hidup

Hari ini adalah hari yang paling bahagia bagimu
Disaat kerja kerasmu takkan pernah sia-sia
Bahkan, saat kau mendapat pengganti diriku
Untuk mendampingi hidup indahmu

Di tempat ini aku dapat melihat senyummu
Walau jariku tak lagi dapat menyentuhmu

Aku bukan penulis..
Aku hanyalah pengutip kata demi kata dari novel pertamamu

Di saat pangeran tersenyum apa
Pangeran berlari entah apa
Bahkan pangeran menari entah untuk apa
Akulah tokoh itu

Aku berharap apa yang aku lakukan dapat mengubah kepedihanmu
Walau harus berpindah kepadaku

Bukankah engkau mengatakan bahwa
Kebahagiaan dan kepedihan berada dalam satu paket, bukan?

Ya!
Kau benar..
Rasa itulah yang sedang kita alami

Dengan tidak mengurangi rasa hormatku
Aku ingin menambah kesempurnaan
Di dalam hatimu

Aku yakin..
Kesenian hidup adalah berkumpul bersama
Dan masih bisa tertawa


Hafiz, Penyair kesayangan
Puisi ini di kirim tanggal 4 April 2012 lalu, ucapan selamat ulang tahun untuk aku :')

Monday, February 25, 2013

From Medan To Jakarta

Kota hantu!
Bukan kabut, namun kepulan asap jahanam
Pandangan pagi yang langsung merusak mataku

Macet
Masih jam 5 pagi
Namun kendaraan-kendaraan itu sudah berteriak dengan angkuhnya
Memekik
Aku tuli!

Juntaian gedung dengan kuku-kuku bengisnya
Pencakar langit kata mereka
Perusak alam kataku
Tanah berbintang, seru mereka
Polusi cahaya, teriakku

Ibu kota negara
Pantaskah?
Banjir, kerusuhan, pemukiman kumuh, kota metropolis
Semua bersanding di satu tempat
Timpang..

Aku mengagumi kota ini
Namun tak pernah mencintainya
Terlalu asing
Terlalu ku benci
Entah kapan aku dan Jakarta bisa bersahabat
Atau sekedar menjalin hubungan baik

Medan
Rumahku
Cinta pertamaku
Kehidupanku
Hatiku
Semua tertinggal disana

Baby doll
Raga tanpa jiwa
Nyawa lain yang di tiupkan Jakarta padaku

Kota hantu
Begitupun aku..

Friday, February 22, 2013

Hai Tuan

Selamat pagi Tuan,
Apa kabarmu hari ini?
Semoga kesibukan itu tak menjadikanmu budak waktu

Hai Tuan,
Apa yang sedang kamu lakukan?
Ku lihat banyak bulir embun membasahi kaca jendelaku
Ku rasa rindu yang kamu selipkan diantara butirannya telah sampai
Bolehkah ku sambut dengan sebuah senyuman?
Menandakan aku juga merindukanmu

Hai Tuan,
Ku lihat sepasang burung berkicau pagi ini
Jendela kamarku mulai diketuk oleh biasan cahaya matahari
Saatnya aku pergi, Tuan
Tidak, aku akan segera kembali
Aku akan menemuimu nanti

Takkah kamu dengar desiran angin itu?
Ku selipkan pesan di tiap hembusannya
Bahwa aku juga mencintaimu..