Bilangan angka yang masih sangat belia; yang terlahir sempurna, bukan tanpa luka, bukan pula tak bertawa. Bilangan yang dimasa silam masih berbentuk harapan, angan, mimpi dan rencana-rencana yang semuanya tersusun rapi di kepala. Bilangan yang menghidupkan rasa, entah sejak kapan, tumbuh dan terus tumbuh tanpa bisa ditunda, tanpa bisa ditanya, mengapa dan bagaimana. Bilangan yang dimasa depan entah berwujud seperti apa; fana, ataukah semakin nyata.
Empat. (Mungkin) masih terlalu singkat. Aku masih bisa merasakan dinginnya atmosfer kala itu, mendengar tiap detail bisikan paraumu merentas di telingaku, merasakan eratnya jabatan yang kau ciptakan di sela jemariku, mendengar degub jantungku yang berdetak cepat diantara ritme denting waktu.
Perjalanan hati itu bukannya tanpa resiko. Lekat-lekat kudalami dirimu, menjawab keingintahuanku akanmu. Terkadang kumelihat kau keluar jalur, dan rasanya aku ingin berhenti dari jalan yang kupilih. Namun sekali lagi, aku memilih terus berjalan. Mengampuni segala resiko yang kutemui. Memahamimu lagi, dan berharap aku dapat menemukan cahaya yang selama ini kucari.
Empat bulan setelah kau menjadi milikku, tak ada yang berubah. Kau tetap bayangan tunggal yang hidup di dalam benakku, aku tetap kisah nyata yang mengganggu hari-harimu. Hari-hari yang kita jalani dengan penuh memori, terbingkai sesukanya di sebuah figura. Hari-hari yang membuat kita terjatuh, terluka, kesal, dan tetap mau mencinta.
Empat bulan setelah aku menjadi milikmu, satu pinta dengan cermat ku rapal ke hadirat Tuhan. Kutak berharap kita selamanya, namun di setiap jeda, di setiap waktu yang kita jalani, bisa terus membuat kita bersama dan sama-sama bahagia.
- NSR -
- #Empat #Ke #Empat-