Wednesday, September 25, 2013

Apa Yang Kucari Disini?


Bukankah menyenangkan, bila setiap hari kita bisa merasakan masakan yang diracik sendiri oleh tangan bunda? Bukankah menyenangkan, bila setiap saat kita bisa mendengarkan omelan ayah karena kenakalan kita? Ya! Memang sangat menyenangkan, bisa bermanja dengan mereka.

Aku memang tak punya album biru seperti di sebuah lirik dari lantunan suara merdu Teh Melly Goeslaw. Aku hanya punya ingatan yang lebih kuat daripada sekedar album berdebu dan usang itu. Tak ada gambar diri. Hanya beberapa wajah yang kukenali dengan pasti. Wajah letih umi, wajah lusuh buya, wajah nakal para adik-adikku. Lebih dari sekedar bayangan, aku bahkan bisa mendengar tawa riang mereka dari kejauhan. Dari jarak yang tak dapat kupastikan. Dari sebuah waktu yang telah menjadi silam.

Aku terlalu jauh dari rumah.

Aku memisahkan diri? Tentu saja tidak. Sesuatu menerbangkan aku hingga aku menepi di kota ini. Kota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit dan bintang-bintang yang bertaburan di tanah. Padahal aku selalu merindukan kicauan burung yang mengusik tidurku dikala weekend. Atau benda-benda langit yang selalu kunikmati di beranda rumah bersama para kurcaci kecilku, ditiap malam. Yah, lagi-lagi tentang silam.

Apa yang kucari disini?

Kota ini terlalu memukauku. Hingga aku lupa, untuk apa aku disini. Mungkin aku tersesat, dari sebuah mimpi yang dulu ingin kujadikan nyata. Entahlah, kini semua memburam. Aku tak lagi tahu, untuk apa sebenarnya aku disini. Senyum bunda tak dapat kulihat. Apakah ia bangga padaku, ataukah sebenarnya ia telah lupa, bahwa aku pernah ada di hari-harinya?

Tak ada prestasi apa-apa. Bahkan untuk hidupku sendiri. Sehari setelah aku disini, aku berdiri dengan menggenggam satu harapan. Begitu semangat untuk merentas hari dan mewujudkan harapan itu. Kini, setelah beratus-ratus hari, aku tetap orang yang sama. Menggenggam satu harapan. Sayangnya, kini aku kehilangan semangat.

Apa yang kucari disini? Dulu, aku ingin sekali membuat hidup keluargaku lebih berarti. Mencoba berteman dengan jarak dan merelakan kehilangan dekapan suasana rumah yang hangat. Melangkah jauh, ke kota yang sangat jauh. Sendirian. Kesepian. Menjadi seorang perantau. Menjadi MANDIRI.



Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah kau kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air yang diam menjadi rusak kerana diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak kan keruh menggenang
Singa tak akan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika sahaja matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
 Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tidak akan menunggu saat munculnya datang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
Jika dibawa ke bandar berubah mahal jadi perhatian hartawan

- Sebuah kutipan lengkap yang dituturkan oleh Imam Asy-Syafi'i -


Aku memercayai nasib baik. Keberadaanku di tempat ini pasti sebuah langkah maju untuk menaiki ribuan tangga berundak, yang diujungnya terdapat hal yang sangat ingin kuraih.

Lalu, apa selanjutnya?

Tentu saja fokus untuk menaiki setiap undakan tangga itu. Memang akan banyak peluh bercucuran, hati yang bimbang di tengah jalan dan bahkan keinginan untuk kembali pulang, mengakhiri seluruh perjalanan dan bertemu garis awal. Tapi bukankah menyerah adalah tanda orang gagal? Dan aku tak mau jadi pengikut barisan itu. Yang kumau ada di atas sana, dan aku harus bisa mencapainya. Dengan apa? Entahlah. Yang kutahu, tak boleh ada kata putus asa di dalamnya.


"Seharusnya, semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dari orang tua kita. Sebaiknya semakin bertambah umur kita, semakin kita dekat dengan  orangtua kita." - Raditya Dika


Tak apa, jauh dari orang tua. Tak apa, kehilangan bahagia. Toh setelah aku menemukan apa yang selama ini kucari, aku akan kembali pulang. Siapa yang mau selamanya sendirian?