Thursday, September 26, 2013

Cangkang Baru




Gue inget pertama kali gue melangkah jauh dari orang tua. Waktu itu, 23 Juni 2012, pukul 7 pagi di bandara Polonia Medan. Gue berlari sedikit tergesa-gesa menuju pintu utama. Pintu yang memisahkan orang-orang yang akan pergi, dan mereka yang tetap tinggal. Pintu yang menjadi saksi bisu, tercurahnya air mata dan haru biru para keluarga, kerabat dan teman dekat.

Pagi itu, gue beranjak meninggalkan wilayah yang sejak lama gue sebut rumah, mendatangi wilayah baru yang sama sekali asing bagi gue. Pagi itu membuat gue makin percaya, dekapan ternyaman adalah dekapan orang tua. Iya, nyaman banget.

Lucu ya, dimana perpisahan bertindak layaknya kaca pembesar, membuat segalanya terlihat sangat dramatis. Perpisahan ini membuat gue mengingat segala kejadian yang pernah gue lalui bareng keluarga. Entah itu saat kumpul-kumpul bareng di ruang tv, saat gue menyuruh adek untuk tidak memberitahu umi bahwa piringnya baru saja gue pecahkan, saat gue dengan ga sengaja memasak telur rebus hingga gosong karena ditinggal main, dan berakhir dengan omelan mahadahsyat umi, saat gue berkonspirasi dengan warga di rumah untuk membuat acara sederhana ketika salah seorang anggota keluarga berulang tahun, hingga saat gue membuat kedua orang tua gue menangis haru, ketika gue lulus smk dengan sebuah prestasi yang bisa gue banggakan di hadapan mereka.

Setelah puas memeluk dan menyalami tangan kedua orang tua gue, gue berbalik arah, menyusuri lorong bandara. Seiring gue menggeret sebuah koper gede dengaan langkah terburu-buru, air mata gue tumpah. Gue sadar, gue ga bakal melihat wajah-wajah itu untuk waktu yang lama.


****


JAKARTA. Kota buas tempat gue mengadu nasib. Berada di kota ini seperti seekor liliput yang sedang berdiri di hadapan raksasa berwajah andhika kangen band dengan segala gigi taringnya, yang siap menelan gue hidup-hidup. Gue disambut dengan kemacetan dan lalu lintas yang semraut. Gue menghabiskan waktu tiga jam dari bandara untuk tiba di rumah tinggal pertama gue di Jakarta, di rumah sodaranya temen gue, tepatnya di daerah Jakarta Timur. Dari sini, gue menelusuri jalan menuju kantor tempat gue akan bekerja di daerah Jakarta Pusat. Kesan pertama gue.. anjrit jauh banget!

Kemacetan di Jakarta itu udah mirip kayak kutilnya Sogi Indra Dhuaja, melekat dan susah dihilangkan. Gue harus berangkat pagi-pagi banget agar terhindar dari kemacetan. Dan gue baru tiba lagi di rumah ketika jarum jam menunjukkan pukul delapan malam. Gelap ketemu gelap. Seminggu pertama gue tinggal di Jakarta, badan gue resmi pegal-pegal.

Setelah sebulan berlalu dan gue udah gajian yang artinya gue udah punya uang, gue memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan kantor. Radio Dalam menjadi pilihan gue saat itu, dikarenakan rekan kerja gue juga ada yang tinggal di situ. Masalah jarak terselesaikan. Gue bisa menyambut pagi dengan ritual yang berbeda; menggedor-gedor pintu kamar mandi karena kesiangan. Namun masalah kemacetan masih tetap berada di rating nomor satu.

Setelah cukup lama tinggal di Radio Dalam dan masalah pribadi gue dengan macet masih belum terselesaikan, akhirnya gue mencari 'cangkang' baru lagi untuk di tinggali. Selama gue menghirup udara Jakarta, gue udah pindah tempat tinggal lima kali. Bagai siput yang gonta-ganti cangkang karena penyesuaian ukuran tubuh, gue pun demikian. Ada saat dimana gue udah mulai merasa ga nyaman di daerah itu, yang akhirnya mengharuskan gue untuk (kembali) pindah.

Segala urusan tentang pindah itu benar-benar merepotkan. Mulai dari mencari tempat tinggal baru, mengemas barang-barang, mengangkut barang-barang itu ke tempat yang baru, hingga akhirnya merapikan barang-barang itu kumbali. Namun yang gue suka dari perpindahan adalah saat-saat gue harus membongkar barang dan menyusunnya kedalam kotak-kotak kecil. Terkadang gue menemukan benda-benda yang gue pikir udah hilang. Dan di balik benda-benda hilang itu, seringnya gue menemukan kepingan kenangan yang terlupakan.

Gue percaya, dibalik sebuah peristiwa pasti selalu ada hikmah. Walau terkadang gue suka ga ngerti hikmah seperti apa yang dimaksud. Begitupun dengan perpindahan ini. Di suatu langkah ketika gue menelusuri lorong jembatan penyebrangan di shelter Semanggi menuju tempat tinggal baru di Jakarta Barat, gue tertegun. Ini adalah tempat dimana gue pertama kali berkenalan dengan Jakarta, dengan desak-desakan di bis, dengan lampu-lampu jalan yang temaram di sisi kota, dengan sinar malu-malu matahari ketika ia akan beranjak pergi maupun saat menjelang pagi. Ini adalah lorong dimana gue dulu pernah berpikir, bahwa gue harus bisa berteman baik dengan masalah-masalah gue itu, yang juga menjadi masalah sebagian besar orang yang tinggal di Jakarta. Ini juga tempat dimana gue memantapkan diri, bahwa suatu saat gue akan lebih baik dari keadaan gue saat ini. Dan kini, ketika gue kembali berada di sini, gue cuma bisa bilang, lorong ini akan menjadi teman gue melangkah untuk beberapa masa ke depan.

Wednesday, September 25, 2013

Tongue Twister - Copyright

Pengen ngerasain lidah keseleo? Coba baca artikel ini secara cepat.
When you write copy you have the right to copyright the copy you write. You can write good and copyright but copyright doesn’t mean copy good – it might not be right good copy, right?
Now, writers of religious services write rite, and thus have the right to copyright the rite they write. Conservatives write right copy, and have the right to copyright the right copy they write. A right wing cleric might write right rite, and have the right to copyright the right rite he has the right to write. His editor has the job of making the right rite copy right before the copyright would be right. Then it might be copy good copyright.
Should Thom Wright decide to write, then Wright might write right rite, which Wright has a right to copyright. Copying that rite would copy Wright’s right rite, and thus violate copyright, so Wright would have the legal right to right the wrong. Right?
Legals write writs which is a right or not write writs right but all writs, copied or not, are writs that are copyright. Judges make writers write writs right. Advertisers write copy which is copyright the copy writer’s company, not the right of the writer to copyright. But the copy written is copyrighted as written, right?
Wrongfully copying a right writ, a right rite or copy is not right.

Hahaha. Gimana? Seru kan? Ini aku temuin disalah satu blog rekomendasi Paman Gugel.

Apa Yang Kucari Disini?


Bukankah menyenangkan, bila setiap hari kita bisa merasakan masakan yang diracik sendiri oleh tangan bunda? Bukankah menyenangkan, bila setiap saat kita bisa mendengarkan omelan ayah karena kenakalan kita? Ya! Memang sangat menyenangkan, bisa bermanja dengan mereka.

Aku memang tak punya album biru seperti di sebuah lirik dari lantunan suara merdu Teh Melly Goeslaw. Aku hanya punya ingatan yang lebih kuat daripada sekedar album berdebu dan usang itu. Tak ada gambar diri. Hanya beberapa wajah yang kukenali dengan pasti. Wajah letih umi, wajah lusuh buya, wajah nakal para adik-adikku. Lebih dari sekedar bayangan, aku bahkan bisa mendengar tawa riang mereka dari kejauhan. Dari jarak yang tak dapat kupastikan. Dari sebuah waktu yang telah menjadi silam.

Aku terlalu jauh dari rumah.

Aku memisahkan diri? Tentu saja tidak. Sesuatu menerbangkan aku hingga aku menepi di kota ini. Kota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit dan bintang-bintang yang bertaburan di tanah. Padahal aku selalu merindukan kicauan burung yang mengusik tidurku dikala weekend. Atau benda-benda langit yang selalu kunikmati di beranda rumah bersama para kurcaci kecilku, ditiap malam. Yah, lagi-lagi tentang silam.

Apa yang kucari disini?

Kota ini terlalu memukauku. Hingga aku lupa, untuk apa aku disini. Mungkin aku tersesat, dari sebuah mimpi yang dulu ingin kujadikan nyata. Entahlah, kini semua memburam. Aku tak lagi tahu, untuk apa sebenarnya aku disini. Senyum bunda tak dapat kulihat. Apakah ia bangga padaku, ataukah sebenarnya ia telah lupa, bahwa aku pernah ada di hari-harinya?

Tak ada prestasi apa-apa. Bahkan untuk hidupku sendiri. Sehari setelah aku disini, aku berdiri dengan menggenggam satu harapan. Begitu semangat untuk merentas hari dan mewujudkan harapan itu. Kini, setelah beratus-ratus hari, aku tetap orang yang sama. Menggenggam satu harapan. Sayangnya, kini aku kehilangan semangat.

Apa yang kucari disini? Dulu, aku ingin sekali membuat hidup keluargaku lebih berarti. Mencoba berteman dengan jarak dan merelakan kehilangan dekapan suasana rumah yang hangat. Melangkah jauh, ke kota yang sangat jauh. Sendirian. Kesepian. Menjadi seorang perantau. Menjadi MANDIRI.



Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah kau kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air yang diam menjadi rusak kerana diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak kan keruh menggenang
Singa tak akan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika sahaja matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
 Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tidak akan menunggu saat munculnya datang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
Jika dibawa ke bandar berubah mahal jadi perhatian hartawan

- Sebuah kutipan lengkap yang dituturkan oleh Imam Asy-Syafi'i -


Aku memercayai nasib baik. Keberadaanku di tempat ini pasti sebuah langkah maju untuk menaiki ribuan tangga berundak, yang diujungnya terdapat hal yang sangat ingin kuraih.

Lalu, apa selanjutnya?

Tentu saja fokus untuk menaiki setiap undakan tangga itu. Memang akan banyak peluh bercucuran, hati yang bimbang di tengah jalan dan bahkan keinginan untuk kembali pulang, mengakhiri seluruh perjalanan dan bertemu garis awal. Tapi bukankah menyerah adalah tanda orang gagal? Dan aku tak mau jadi pengikut barisan itu. Yang kumau ada di atas sana, dan aku harus bisa mencapainya. Dengan apa? Entahlah. Yang kutahu, tak boleh ada kata putus asa di dalamnya.


"Seharusnya, semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dari orang tua kita. Sebaiknya semakin bertambah umur kita, semakin kita dekat dengan  orangtua kita." - Raditya Dika


Tak apa, jauh dari orang tua. Tak apa, kehilangan bahagia. Toh setelah aku menemukan apa yang selama ini kucari, aku akan kembali pulang. Siapa yang mau selamanya sendirian?

Tuesday, September 24, 2013

Pengagum Rahasia


Diam-diam, aku jadi pengagummu. Kau tahu itu? Kurasa tidak. Aku terlalu nyaman untuk menikmatimu dalam diam. Dalam jarak yang bahkan aku sendiri tak dapat memperhitungkan.

Kau tahu, kita selalu bertemu. Kau tak menyadarinya, bukan? Aku selalu menatapmu lekat-lekat, dari sudut yang tak pernah dapat kausadari. Kukagumi kau dari balik jamahan pointer mouseku. Yah, kita hanya terhalang dunia luas yang kusebut maya. Sebuah anugrah bagimu, dari sekian banyak wajah, kuperintahkan bola mata ini hanya untuk menatapmu. Harusnya kau bangga akan prestasi itu.

Sesekali, temuilah aku. Walau hanya di dalam mimpiku, aku sangat senang. Bahkan hal itu sudah kutulis dalam list doaku pada Tuhan. Apalagi bisa berjabat dan bersenda gurau denganmu. Sampai disini, itu masih sebuah khayalan. Aku tak ingin meminta banyak pada Tuhan. Hanya satu pinta, kusemat lamat-lamat dalam doa. Tuhan itu baik. Jadi, siapkan dirimu. Kita akan bertemu di sebuah waktu. Kuharap aku tak terlalu gerogi dalam pertemuan pertama kita. Tentu saja, di mimpiku.