Tuesday, April 23, 2013

Eccedentesiast



"Kamu gila!"

Ia hanya tersenyum.

"Hentikan senyumanmu itu. Jangan tunjukkan kepalsuanmu padaku. Aku tau kamu sakit. Hatimu sakit! Please, berhenti berbuat seperti ini!" Aku mulai menangis melihat sebuah wajah yang tengah berdiri di depanku. Ia tetap tersenyum, tertawa, bahkan tampak ceria seperti tak ada masalah dalam hidupnya.

"Aku baik-baik aja kok." Katanya dengan nada suara yang renyah. Ia tetap memainkan seekor kupu-kupu yang hinggap perlahan di jemarinya.

"Bohong!!"

"Apa kamu melihat kebohongan dari pancaran wajahku?" Ia membiarkan kupu-kupu itu terbang, lalu berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Pandangan kami bertemu. Aku terdiam dan mengamati matanya dalam-dalam.

Sayu. Mata itu tak memancarkan kebahagiaan seperti yang ditunjukkan wajahnya. Tak ada segaris senyum disana, pun air mata. Yang kulihat hanya sepasang mata dengan tatapan kosong. Tak ada kehidupan. Tak ada ekspresi. Datar.

"Dorr!," suaranya mengagetkanku. "Aku suruh kamu mengamati wajahku, bukan bengong begitu."

Ia merebahkan dirinya di hamparan rumput hijau, tepat di sampingku. Melipat kedua tangannya dibawah kepala, menatap langit sore yang berwarna jingga. Lagi-lagi, ia tersenyum, "kamu terpesona melihat wajahku yah? Hahaha", matanya tak lepas dari pergerakan awan yang mulai berkemas diri, bergerak ke barat bersama deru angin.

Ia tersenyum, padahal sebenarnya tidak. Ia tertawa, padahal hatinya menangis. Ia ceria seakan tanpa beban, sebenarnya ia sekarat.

Ia seorang eccedentesiast. Ia menyembunyikan rasa sakitnya dibalik senyumannya. Ia mencoba bertahan ketika seluruh dunia telah menjauh. Ia tetap tegar meski harapannya telah hancur. Ia tetap menampakkan kebahagiaan, meski ia sudah tak punya alasan untuk hidup lagi. Ia hidup dalam keputus-asaan. ia hidup dalam kesedihan. Tapi ia tetap tesenyum. Ia tetap menjalani harinya dengan senyuman. Palsu memang, tapi setidaknya ia berhasil tersenyum. Bukankah itu lebih baik daripada ia terus menangis dan mengutuk hidupnya? Ia berhasil, tersenyum diantara tangisnya.

Seorang eccedentesiast bukanlah orang munafik. Bukan. Ia hanya berusaha tersenyum, berusaha bahagia dengan dunianya yang kelam. Tak ada yang mengerti, bahkan aku, mengapa dia, seorang eccedentesiast melakukan itu.

"Aku lupa kapan terakhir kali aku tersenyum dari hati," lirihnya. Ia bangkit, mengatur posisi duduk dan kembali menghadapku.

Aku hanya diam, memperhatikan apa yang akan dilakukannya kemudian. Ia semakin mendekatkan dirinya padaku. Ia mengulurkan tangannya dan menggamit kedua lenganku. Jemari kami bertemu, menggenggam dan menutup antara celahnya.

"Aku juga lupa kapan terakhir kali aku menangis," lanjutnya.

Tubuhnya semakin dekat. Aku yang semula duduk mulai mencondongkan diri ke belakang, mencoba menahan berat tubuhnya. Ia semakin dekat dan aku tak kuasa menahan keseimbanganku lagi. Ia mendekapku erat hingga aku terjatuh, tertidur di hamparan rerumputan. Gelap.

Ku buka mataku perlahan. Langit sore dengan warna jingganya masih tetap memancarkan keindahannya. Awan tipis juga masih tetap bergerak ke arah barat. Namun ia tak ada. Ia tak pernah ada. Aku sendirian di taman ini. Sejak tadi. Aku tersenyum dan tertawa kecil. Akulah si eccedentesiast itu.



Monday, April 22, 2013

Senja


"If we meet and know each other, it must be there something good ahead, so thankful"



Aku masih duduk termangu di tepi dermaga. Menatap senja dengan sedikit memicingkan mata. Meski tak lagi sekuat tengah hari, namun cahaya matahari masih menyilaukan mataku. Kakiku yang telanjang tanpa alas kaki kini kubenamkan ke dalam air. Seketika air laut itu menggelitikku dengan sapuan manjanya. Hangat, damai, sunyi.

Kubuka kembali sebuah buku catatan yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Sebuah catatan yang penuh akan tulisan tanganku sendiri. Di halaman pertamanya terdapat sebuah foto dua orang remaja yang saling tersenyum renyah. Aku tersenyum memandangi foto itu. Ku arahkan telunjukku, menyusuri salah satu wajah yang terdapat di foto itu, seakan aku sedang mengelus wajah asli pemiliknya. Sepasang mata yang bening, hidung mancung, senyum manis yang sempurna.

"Pasti Tuhan menciptakanmu dengan hati riang, Tuan," gumamku. Ku balik lembaran catatan itu, membaca halaman berikutnya.

Once upon a time..
Begitu kalimat pertama yang tertulis di halaman itu. Aku mengerutkan dahi dan mengingat-ingat kembali bagaimana aku dulu begitu bingung dalam memilih kata yang tepat untuk memulai cerita ini; kisah kita.

Aku tertawa. Ingatanku telah menyeretku ke beberapa waktu silam, dimana semesta telah menautkan benang merahnya di jariku dan jarimu, hingga kita tak sengaja berkenalan, bertemu, dan berteman dengan absurd dalam kemayaan.

Ku baca kata demi kata yang tertulis di buku itu. Aku terdiam, tertawa, menggerutu, tersenyum, menangis. Tak kusangka, buku sederhana itu telah menuliskan kisah kita dengan banyak guratan emosi di dalamnya. Seperti sebuah proyektor, satu persatu sketsa kejadian yang aku lalui bersamamu terputar ulang. Semua hal pahit-manis tergambar jelas disana. Semakin aku membalik halaman, semakin aku membaca kisah itu, bayangmu semakin muncul, membesar, seakan ingin melonjak keluar dari otakku.

Halaman terakhir terbuka. Masih bersih dan kosong, belum terusik setitik tintapun. Ku ambil sebuah pulpen yang aku selipkan di saku bajuku sejak tadi. Ku lemparkan pandanganku ke ufuk barat. Matahari kian sembunyi, kembali ke haribaannya. Semburat cahaya merahpun kian berhamburan di bawah kaki langit. Awan-awan tipis mulai kehilangan dirinya, tersapu angin malam yang meliuk-liuk diantara udara senja.

Ku tarik napas agak dalam, lalu membuangnya dengan cepat. Segores tinta mulai mengotori halaman itu. Dengan penerangan alam seadanya, ku coba membuat sebuah cerita terakhirku. Cerita yang akan menutup kisah ini.

Di awal, sebelum aku mulai memutuskan untuk membukukan kisah kita, aku berharap kelak akhirnya akan ada ending yang aku tulis dengan sebuah senyuman. Begitulah yang aku lakukan sekarang, aku tersenyum sambil merangkai kata demi kata yang kuharap akan indah bila suatu saat kamu menyempatkan waktu untuk membacanya. Namun mataku tak ikut tersenyum. Ada sebuah bulir air bening bernaung disana. Ku tahan sekuat yang kubisa agar ia tak jatuh dan membasahi kertasku. Namun seiring banyaknya kata yang kutulis, seiring itu pula ia meluap, dan akhirnya menetes deras, memburamkan tulisanku, tepat setelah aku menuliskan kalimat terakhirku, "The end.."

Kisahku telah usai. Suatu saat, bila kamu memintanya, aku akan izinkan kamu untuk membacanya. Namun sebelumnya aku minta maaf, kisah itu tak berakhir bahagia. Tak mengapa, kan?

Aku belum berniat untuk menulis di catatan baru lagi. Aku kekurangan cahaya. Matahariku telah tenggelam. Angin semakin kencang berhembus kearahku. Tak ada lagi langit senja atau burung yang terbang rendah menuju sangkar. Gelap malam mulai menyelimuti hari.

Aku masih betah bersandar di sebuah tiang di tepian dermaga. Menatap gelap. Sendirian. Menunggu pagi, yang mungkin membawa cahaya baru yang lebih hangat untukku..

Friday, April 19, 2013

Siap, Jendral!

Berbendi-bendi lampu di kapal
Mentros Cina mengangkat jati
Rajin-rajinlah engkau belajar
Agar tak menyesal di kemudian hari

Sewaktu aku kecil, jendral itu selalu menyanyikan bait lagunya buatku. Senyum riang akan selalu menghiasi wajahnya ketika irama lagu mulai dinyanyikan. Aku tertawa dan ikut bernyanyi bersamanya. Tak jarang, aku menggunakan piring kaleng sebagai drum dan sendok sebagai penabuhnya. Jika sudah begitu, sang jendral yang tak lain adalah kakekku akan berdiri dan menari dengan gembira. Sejurus kemudian, aku telah berada dalam gendongannya, sebelum akhirnya tubuh mungilku dilempar-lemparkan ke udara. Nenek yang menyaksikan seorang kakek tengah bermain bersama cucunya, ikut tertawa. Sesekali ia merasa gusar, takut kalau aku akan terlepas dari pegangan kakek.

"Hati-hati! Nanti kalau dia jatuh bagaimana?," seru nenek.

"Tenanglah. Aku seorang jendral. Tangan-tanganku ini cukup kekar dan kuat. Lagi pula, tak mungkin aku rela membiarkan cucu kesayanganku ini terjatuh karena kelalaianku."

****

Kakekku adalah seorang jendral. Dalam beberapa peperangan, ia selalu di tunjuk sebagai pimpinan kelompok yang ditugaskan untuk merebut kemerdekaan NKRI dari tangan para penjajah. Aku selalu senang setiap kali kakek mulai bercerita tentang perjuangannya di medan perang. Bom yang melayang kesana kemari, peluru yang lewat hilir mudik seperti angin, riuhnya suasana perang, semuanya digambarkan secara jelas dan nyata melalui cerita kakek yang begitu bersemangat.

"Dulu, ga ada senjata api yang canggih kaya' sekarang ini. Pasukan atok cuma pake senjata seadanya. Tapi dengan taktik yang tepat, atok sama kawan-kawan tu, berhasil memukul mundur para penjajah." Kata kakek dengan mata berbinar. Aku yakin, saat ia menceritakan itu, ingatannya kembali terseret pada beberapa tahun silam, ketika ia begitu gagahnya berjuang melawan para kompeni.

"Semua kawan Atok selamat, Tok?" tanyaku penasaran.

"Ndak lah. Ada beberapa kawan atok yang kalah di medan tempur. Tapi begitulah harusnya semangat bangsa, menang meski jasad tak kembali pulang!" Ku lihat beliau menyapu bulir air mata di sudut matanya. Mungkin ia merindukan teman seperjuangannya yang gugur di medan perang.

"Setelah perang terakhir itu, Pak Sukarno.. Kau kenal Pak Karno, kan?," tanyanya padaku di tengah ceritanya.

"Kenal lah, Tok. Presiden pertama kita itu, kan?," jawabku cepat, seolah tak ingin kehilangan cerita yang terputus oleh pertanyaan kakek.

"Pak Sukarno itu mengutus atok untuk memimpin kelompok dalam pembebasan Irian Barat." Kakek menyempurnakan kalimatnya.

"Woow! Keren, Tok! Trus? Trus?"

"Tapi atok ndak pergi.." Ia memelankan suaranya di akhir kalimat.

"Loh, kenapa Tok?" tanyaku yang kian penasaran.

"Nenek kau itu..," katanya seraya menunjuk nenek yang tengah melipat kain di ruang tamu, "tak dikasinya atok pergi. Takut dia atok ndak balik lagi ke rumah ni, gugur di medan perang sana. Padahal kalo atok pergi waktu itu, pasti nama atok udah tertulis di dalam buku sejarah kau itu." Aku hanya mengangguk dan tertawa seadanya.

"Tapi kalau atok jadi pergi, mungkin atok ndak akan pernah bisa melihat cucu secantik kau," tambahnya seraya mengusap kepalaku. Ia tertawa. Ku peluk tubuh kekarnya, ikut tertawa dalam dekapnya.

Sejak kecil hingga aku memasuki masa SMP, aku lebih sering tinggal di rumah kakek ketimbang di rumah orang tuaku. Ketika aku berumur 4 tahun, disaat aku harus hijrah ke kota tempat tinggalku yang baru, aku menangis sejadi-jadinya, tak ingin berpisah jauh dari kakek dan nenekku. Tapi setahun setelah itu, kakek dan nenek menyusulku, hingga akhirnya kami kembali bernaung di kota yang sama, Medan.

Aku menghabiskan masa SD-ku bersama kakek dan nenek dengan berladang di sebuah desa di pinggiran kota Medan. Seorang pemilik sawah mempercayai kakek untuk mengelola lahannya yang sangat luas menurutku. Jadilah aku seorang petani padi, seperti sang jendral itu.

Dikala musim tanam, aku suka membantu kakek menanam padi. Seringnya, aku malah bermain diantara semai padi, menangkap capung-capung kecil yang berwarna-warni. Di sore hari, aku membenamkan diriku di areal persawahan yang baru saja dicangkul sang jendral. Lumpurnya yang dalam membuat tubuhku tenggelam hingga sebatas lutut. Seluruh wajah dan badanku berlumuran lumpur. Dikala sang jendral selesai menanamkan bibit terakhirnya, ia akan membawaku ke sebuah tali air tak jauh dari area persawahan tadi, membuat sebuah air terjun kecil melalui sebilah bambu, lalu mengajakku mandi bersama. Airnya sangat jernih dan dingin namun cukup untuk menghilangkan seluruh lumpur dari tubuh kami berdua.

Di rumah, tepatnya sebuah gubuk kecil berdindingkan anyaman bambu dan beratapkan daun rumbia, nenek suka memasakkan kue untuk kami santap sembari melepas lelah setelah bermain di sawah seharian.

Ketika weekend tiba, buya dan umi yang tak lain adalah orang tuaku, suka mengunjungi kami, sekedar untuk membawakan makanan atau menjemputku pulang. Kalau mereka sudah datang, kegiatan rutin yang sering kami lakukan adalah memancing. Kakek punya beberapa kolam ikan mas dan ikan nila di ladangnya, yang mekanisme perairannya dikerjakan oleh alam melalui aliran tali air.

Di dataran kering, kakek memanfaatkannya sebagai ladang nanas, cabai dan sirsak. Kalau matahari sedang terik, aku suka memanjat pohon-pohon sirsak itu untuk merasakan semilir angin atau sekedar bersantai sambil memetik buah sirsaknya. Aku hanya suka memetiknya, bukan memakannya. Bagiku, buah yang katanya menjadi obat ampuh untuk berbagai penyakit itu, hanyalah sebuah buah putih yang rasanya asam. Aku sama sekali tak menyukainya.

Terkadang kakek mengajakku memancing belut. Pernah suatu ketika, aku melihat seekor hewan melata berenang landai diantara lumpur. Aku kira hewan itu adalah belut, tapi kakek bilang itu ular air. Untung saja kakek tak sempat menangkapnya dengan tangan telanjang kakek. Kalau tidak, mungkin ceritanya akan berbeda.

****

Bertahun-tahun berlalu dan aku mulai sibuk dengan kegiatan sekolahku. Aku sudah jarang menginap di rumah kakek. Seiring berjalannya waktu, tubuh sang jendral kian renta dan tak lagi mampu menangkal segala penyakit. Beliau akhirnya menyerahkan kembali ladang yang dikerjainya bertahun-tahun kepada pemiliknya, dan memilih tinggal di rumahku.

Memasuki masa SMK, aku melihat sang jendral lebih sering terbaring di tempat tidur. Ia sudah tak sekuat dulu, ketika ia masih berjaya dengan gelar jendralnya. Yang kulihat kini hanyalah seorang pria tua yang terbaring lemah, berusaha melawan segala penyakit komplikasi yang menyerang tubuhnya.

Ia adalah seorang jendral yang mampu mengalahkan beribu pasukan penjajah demi kemerdekaan bangsa, tapi tetap saja, gelar jendral itu tak mampu membuatnya menang mengalahkan segala penyakit yang kian hari kian menghancurkan pertahanan tubuhnya.

Tepat tiga hari sebelum aku merayakan wisuda kelulusanku, sang jendral gugur, menghembuskan napas terakhirnya. Di sebuah malam yang sepi, ketika kami semua terlelap, ia pergi dengan sebuah senyum yang tersungging di bibirnya. Tak ada kata perpisahan. Aku bahkan belum sempat memamerkan ijazahku padanya. Aku belum sempat membuatnya bangga, bahwa cucu mungilnya kelak akan sukses dalam peperangan hidupnya.

Kini, tak ada lagi lagu Bendi yang dulu sering kami nyanyikan bersama. Tak ada lagi seorang jendral yang akan menghardikku ketika aku nakal. Tak ada lagi seorang kakek yang bahunya selalu mampu menjadi sandaranku. Tak ada. Ia telah kembali pada Sang Maha. Nama sang jendral memang tak pernah tertulis di buku sejarah manapun, tapi namanya selalu terukir di hatiku. sangat jelas hingga aku takkan pernah bisa menghapusnya.

Selamat jalan, Jendral. Perjuanganmu telah usai. Kini giliranku, memperjuangkan hidupku dan mengalahkan segala hal yang menurut orang lain tak mungkin. Aku akan rajin belajar, seperti lagu Bendi yang engkau ciptakan dan selalu kau perdengarkan padaku.


****

Memasuki bait-bait terakhir, Suci jadi cengeng, Tok.
Maaf kalau suci menangis kala merangkai cerita ini.
Suci menulis ini karena suci merindukanmu..

Wednesday, April 17, 2013

Menggerutu



Sore ini hujan turun lagi, membuat jalanan di seluruh Jakarta tergenang air. Dengan keadaan seperti ini, aku memperkirakan bahwa di seluruh penjuru jalan akan terjadi kemacetan. Dan benar saja, jejeran kendaraan terlihat seperti antrean BLT ketika kulihat dari jendela kantorku yang berada di lantai 17.

"Sial! Macet lagi!", gerutuku dalam hati.

Aku segera mengenakan hoodie kuningku. Setelah memasukkan beberapa dokumen kantor ke dalam tas, aku bergegas menuju lift. Jalanku sedikit terhadang dengan beberapa bocah yang menyeruak menawarkan jasa ojek payung begitu aku tiba di lantai dasar. Aku mempercepat langkahku dan tak menghiraukan tawaran bocah-bocah lusuh itu. "Mengganggu jalan, saja!," pekikku dalam hati.

Beginilah Jakarta, kota yang sangat aku benci. Entah mengapa semua orang dari penjuru desa rela bersusah payah datang ke kota ini. Usaha yang sangat disayangkan, menurutku. Terlebih jika mereka mengadu nasib disini dengan mengandalkan otot, bukannya otak. Seperti para bocah ojek payung itu, yang rela basah kuyup demi selembar uang seribuan. Padahal kalau saja mereka berusaha di desanya, keadaan mereka takkan seburuk ini.

Ku percepat langkahku menuju jembatan penyebrangan. Rintik hujan semakin lebat. Ku rapatkan lagi hoodie-ku agar hujan tak membuatku semakin basah. Ku lirik seorang pengemis tua dengan mangkok kosongnya duduk termenung di pinggiran jembatan. "Dia juga sama saja. Bodoh!"

Ku sandarkan punggungku pada sebuah tiang penyangga atap shelter bis. Sembari menunggu bis, aku merogoh saku celana, mengambil sebatang rokok, menyalakan api dan mulai menghisapnya. Kulayangkan pandanganku ke penjuru kota yang kini mulai gelap.

Ternyata hujan membuat sore lebih cepat berganti malam. Lampu-lampu jalanan yang sedari tadi telah menyala membuat rintik hujan yang melewati cahayanya terlihat berpendar seperti kristal. Bunyi klakson yang diciptakan para pengendara motor terdengar saling bersahutan, menciptakan polusi suara yang sangat mengganggu pendengaranku. Beberapa dari mereka mulai menggunakan trotoar sebagai jalan agar mereka bisa menyalip kendaraan di depannya. Tak sengaja, seorang pengemudi melintasi genangan air yang menyebabkan cipratan ke arahku. Seketika celanaku basah oleh tingkah brutalnya.

"Woy! Pake mata dong. Ga liat ada orang disini?!," teriakku yang tentu saja diacuhkan olehnya. Pengemudi itu tetap dengan brutal melintasi trotoar dan menyelinap diantara pejalan kaki yang tengah bergegas menghindari hujan. Aku terus menggerutu sambil membersihkan celanaku seadanya.

"Tak usah kesal, Tuan. Memang seperti inilah keadaan Jakarta."

Aku mendengar seseorang sedang berbicara, namun entah kepada siapa. Kulirikkan mataku ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari asal suara itu. Kudapati seorang gadis yang sedang berdiri di sampingku sambil memayungi dirinya.

"Lo ngomong ama gue?," tanyaku sambil mencoba mengintip sebuah wajah yang bersembunyi dari payung biru muda berornamen bunga itu.

"Jangan habiskan tenagamu hanya untuk menggerutu dengan keadaan ini," lanjut gadis itu kemudian.

Aku memperhatikan penampilannya dari bawah hingga atas. Ia mengenakan sepatu kets coklat muda yang terlihat basah karena hujan. Lalu diikuti dres bermotif bunga sepanjang lutut, motif yang senada dengan payung yang dipegangnya. Sebuah ransel berwarna abu-abu tersandang rapi di punggungnya. Rambutnya diikat seadanya. Tampak beberapa helai terlepas dari ikatan dan jatuh menjuntai diantara dagunya. Gadis ini cukup cantik menurutku. Ditambah suaranya yang renyah dan cara berbicaranya yang sopan.

"Yah, karena inilah gue benci Jakarta. Hanya kesemrautan yang selalu gue temukan disini. Orang-orang yang bertingkah seenaknya, seakan tak ada hukum yang berlaku disini." Aku menarik beberapa hisapan dari puntung rokokku dan membuat pola lingkaran dari asapnya yang ku hembuskan ke udara.

"sepertinya anda telah mengalami hal yang buruk, hari ini."

Gadis itu terus berbicara, namun tak pernah memutar arah hadapnya untuk membalik ke arahku. Ia terus saja menatap jalanan yang masih saja diisi dengan kemacetan dan rintik hujan.

Tebakannya benar sekali. Aku memutar ingatan, mengingat kembali kejadian-kejadian buruk yang aku alami hari ini. Mulai dari bangun terlambat karena aku harus lembur demi menyelesaikan deadline kantor, motorku yang rusak akibat di serempet sebuah mobil yang membuatku harus berjalan kaki hingga ke shelter terdekat, dan karena itu pula aku jadi ketinggalan meeting dan ditegur keras oleh atasanku. Makan siang yang tumpah karena seseorang yang ceroboh menabrakku saat di cafetaria, hingga akhirnya harus rela kecipratan air karena pengemudi motor yang tak bertatakrama. Semua kejadian itu membuatku semakin enggan tinggal di kota ini.

"Tebakan lo bener. Hari ini mungkin hari tersial gue. Dari pagi sampe malem, gue terus aja ngalamin kejadian-kejadian yang ngejengkelin banget. Contohnya ya ini, celana gue basah gara-gara pengemudi motor yang ugal-ugalan itu."

Ku dengar ia tertawa geli. Mungkin ceritaku terdengar lucu di telinganya. Namun itu membuat kekesalanku jadi agak mereda. Entahlah, aku suka ketika mendengar tawa lembutnya.

"Kenapa lo ketawa? Lucu ya?!"

"Bukan begitu. Aku hanya heran, mengapa anda bertingkah seolah-olah andalah manusia yang paling tak beruntung di muka bumi ini."

"Tentu saja. Emang gitu kok." Aku menceritakan padanya tentang kesialan apa saja yang telah menimpaku satu harian ini. Ada jeda yang panjang ketika aku selesai bercerita. Mungkin dia paham dan akhirnya akan menarik kembali kalimat yang telah ia ucapkan sebelumnya. Namun belum sempat aku membanggakan diri atas predikatku sebagai manusia tersial, ia mulai bersuara lagi.

"Di Turki, ada seorang anak yang rela terus terjaga sepanjang hidupnya. Sebab apabila ia lalai dan tertidur, jantungnya akan berhenti berdetak dan dia akan mati. Anda hanya melewatkan batas jam tidur anda beberapa jam hingga akhirnya anda terlambat bangun, dan dengan alasan itu anda menyebut diri anda sebagai manusia tersial. Bagaimana dengan anak itu? Ia sama sekali tak pernah mengeluh tentang penyakitnya yang sangat aneh itu."

Aku terdiam, menanggapi ceritanya dengan keheninganku.

"Sekelompok anak di Banten, rela menyeberang sungai berarus deras dengan bergelantungan di jembatan yang hampir roboh, demi bersekolah. Tidakkah anda bayangkan, bagaimana jika mereka tergelincir dan jatuh ke sungai? Anda hanya berjalan beberapa ratus meter ke sebuah shelter, lalu dari situ anda bisa duduk santai di dalam bis ber-AC hingga ke kantor anda. Apakah anda sesial itu, Tuan?"

"Hei itu berbeda. Rumah gue jauh banget dari jalan yang dilalui kendaraan umum. Ditambah gue yang terlambat bangun, trus ada meeting pagi, semua itu jadi suatu kesialan bagi gue. Bukankah lo juga bakal bete kalo lo ngalamin kejadian kayak gue?" Aku berusaha membela diri. Namun dia tak menggubris pertanyaanku.

"Anda lihat seorang ibu tua yang duduk disana, Tuan?" Gadis itu menunjuk ke arah jembatan penyebrangan yang tadi kulewati. Aku melihat seorang pengemis tua berbaju lusuh. Air mukanya terlihat begitu lelah dengan sesekali melirik mangkok kecilnya yang kosong tak terisi recehan dari para pejalan kaki yang melintasinya.

"Iya, gue liat. Ada apa dengan pengemis pemalas itu?"

"Kira-kira sudah berapa hari ia tidak makan, yah?" Aku terheran karena gadis di sampingku ini malah balik bertanya kepadaku.

"Mana gue tau. Emang gue tukang ngasi makan dia?!," jawabku sekenanya.

"Udah tiga hari," katanya kemudian. "Aku selalu memperhatikan nenek itu dari sini. Sesekali aku memberinya nasi bungkus bila aku sedang puasa. Ia tak punya sanak saudara, juga tempat tinggal. Di jembatan itulah ia tidur dan mencari makan. Udara dingin dan sengatan terik matahari adalah sahabatnya. Ia tak bisa beranjak pergi, kakinya lumpuh. Jika petugas Pol PP sedang beraksi, ia pasti ikut terciduk.."

"Kenapa dia ga balik aja ke kota asalnya, daripada memilih bersakit-sakitan di kota ini?" potongku di antara perkataannya.

"Ini rumahnya. Ia lahir dan besar di Jakarta. Dulu ia orang yang cukup berada. Namun setelah suaminya meninggal, ia ditelantarkan oleh anak-anaknya. Jadilah ia seperti sekarang ini."

"Oh, gitu? Trus hubungannya sama gue, apa?"

"Anda hanya kehilangan jatah makan siang anda. Itupun kalau boleh saya terka, anda meminta bantuan office boy untuk membelikannya. Sedangkan ia, untuk mendapatkan sesuap nasi saja harus rela kehujanan, tersengat sinar matahari, dicaci maki bahkan diperlakukan kasar. Apa pernah ia mengeluh? Seluruh waktu dan perkataannya ia gunakan untuk berdzikir, bukan menggerutu seperti anda."

Aku tersentak kaget. Memikirkan kembali tentang hidupku yang kurasa lebih baik dari orang-orang yang masuk ke dalam cerita gadis ini. Aku punya tempat tinggal yang cukup nyaman untuk kutinggali, aku punya kendaraan pribadi walau hanya sebuah motor, aku punya pekerjaan layak dengan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhanku selama sebulan. Aku bahkan bisa menabung dari penghasilanku itu.

"Cobalah berpikir dari sudut pandang yang berbeda, Tuan. Maka anda akan lebih bisa bersyukur atas apa yang telah anda dapatkan."

Aku terdiam, mencerna setiap kata dalam kalimatnya dengan teliti. Menghubungkan setiap bait tuturnya dengan alur hidupku. Ya, harusnya aku tak perlu menggerutu tentang hari yang menyebalkan ini. Banyak sisi lain yang bisa aku jadikan sebuah kesenangan, daripada harus mempola pikiranku menjadi kesal dengan kejadian-kejadian buruk yang kualami.

Ku tarik hisapan terakhir dari puntung rokokku, lalu membuang puntungnya sembarang.

"Aku harap anda segera menghentikan kebiasaan anda untuk membuang puntung rokok yang masih menyala sembarangan, Tuan. Karena beberapa hari yang lalu, sebuah rumah terbakar habis karena kecerobohan seseorang yang membuang puntung rokok sesukanya. Akibat dari kelakuannya itu, seorang anak kehilangan orang tuanya, dan seorang adik kehilangan abang tercintanya."

Hujan telah berhenti. Gadis itu mengibaskan payungnya dari sisa air hujan sebelum akhirnya menutup payung itu dan menyimpannya ke dalam ransel. Sekilas kulihat luka bakar yang bernaung di leher dan sebagian lengan kanannya.

"Hujannya sudah reda, Tuan. Jangan terlalu lama berdiri disini, nanti anda bisa masuk angin. Aku pamit dulu, Tuan. Sampai bertemu lagi."

Untuk pertama kalinya pandangan kami bertemu. Diantara cahaya lampu jalan yang temaram, aku bisa melihat wajah belianya yang tersenyum manis, cantik sekali. ku terka, ia masih berusia belasan tahun, namun pemikirannya melebihi aku yang hampir memasuki kepala tiga.

Dia lalu berbalik dan menghentikan sebuah taksi. Kupandangi terus taksi yang dinaikinya hingga menghilang di persimpangan. Tanpa sempat berkenalan atau sekedar mengucapkan terima kasih, aku terdiam, berdiri seperti orang bodoh yang baru saja bertemu malaikat. ku cari puntungan rokok yang aku buang tadi, mematikan apinya dan membuangnya ke tempat yang semestinya.

Aku kembali menyusuri jembatan penyeberangan itu sesaat setelah membeli dua bungkus nasi goreng. "Nek, mau makan bareng saya, ngga?," tanyaku pada sorang nenek, sang pengemis tua itu.